Kuterima
surat yang berisikan pesan tentang keluhMu sebagai Sang Pencipta terhadap diriku
yang Engkau ciptakan. Melalui surat balasan ini, inginku curahkan segala keluh
kesahku sebagai ciptaanMu dan Engkau sebagai Sang Pencipta. Sempat terlintas
didalam benakku bahwa kehadiranMu adalah sesuatu yang benar dan nyata atau
sesuatu yang tidak benar namun nyata ataupun sesuatu yang benar namun tak
nyata. Sempat pula aku meragukan tentangMu, tentang kehadiranMu, karena yang
kutahu Tuhan itu hanya satu; Engkau. Namun sampai saat ini hatipun bergejolak,
berkemelut dengan sejuta tanya “Mengapa Engkau dibedakan dengan sebutan nama
yang mengatasnamakan agama?”, jika agama mengajarkan kebaikan, lalu mengapa
agama mengharuskan perpisahan? Sedangkan pada diri-Mu kulihat kebaikan? . Memang
agama kami berbeda nama, namun Tuhan kami tetap sama. Kenapa manusia masih
membedakan nama? Bukankah cinta kami kehendakMu juga?
Tuhan, dengarlah curahanku seperti
aku mendengarkan curahanmu, agar tidak terjadi kesalahpahaman diantara Sang
Pencipta dan Yang diciptakan. Semua ini tentang aku, Engkau, dia, dan cinta
yang dibedakan atas nama agama. Tentang kami yang sulit menyatu meskipun kami
yakin Tuhan kami satu. Tuhan, percayalah, dia juga mencintaiMu, hanya saja dia
menyebut namaMu dengan sebutan yang berbeda. Kami sama-sama mendoakan. Aku
dengan kedua tanganku yang terbuka menyatu, dan dia dengan kedua tangannya yang
mengepal menyatu. Hanya saja yang membedakan kita adalah tasbih yang terselip
di tanganku dan rosario ditangannya.
Aku pun meyakini bila kami berbeda
agama tak pernah sedikitpun kami berbatas pada perbedaan. Karena cinta tidak
memandang perbedaan, tapi cinta tumbuh didalam perbedaan. Yang namanya cinta
itu pasti berawal dari sebuah perbedaan, kemudian menuju kesempurnaan. Namun
jika memang pada akhirnya kami harus terusir, maka usirlah kami. Bukan mengusir
kami dari Tuhan kami. Ijinkan kami menyayangiMu dengan Iman kami. Karena kami
tak pernah menyalahkan cinta, agama, ataupun Tuhan. Yang kami tahu, perbedaan
itu ada untuk membuat kita menjadi logis dan lebih dewasa.

Mungkin Tuhan tidak butuh untuk kamu bela, apalagi atas nama cinta
BalasHapusaku tidak percaya orang yg tau apa yg tuhan ingin mereka lakukan, karena aku mnyadari bahwa itu slalu kebetulan jika keinginan mereka dan tuhan sama
Hapus