Rabu, 06 Januari 2016

SURAT UNTUK TUHAN


Kuterima surat yang berisikan pesan tentang keluhMu sebagai Sang Pencipta terhadap diriku yang Engkau ciptakan. Melalui surat balasan ini, inginku curahkan segala keluh kesahku sebagai ciptaanMu dan Engkau sebagai Sang Pencipta. Sempat terlintas didalam benakku bahwa kehadiranMu adalah sesuatu yang benar dan nyata atau sesuatu yang tidak benar namun nyata ataupun sesuatu yang benar namun tak nyata. Sempat pula aku meragukan tentangMu, tentang kehadiranMu, karena yang kutahu Tuhan itu hanya satu; Engkau. Namun sampai saat ini hatipun bergejolak, berkemelut dengan sejuta tanya “Mengapa Engkau dibedakan dengan sebutan nama yang mengatasnamakan agama?”, jika agama mengajarkan kebaikan, lalu mengapa agama mengharuskan perpisahan? Sedangkan pada diri-Mu kulihat kebaikan? . Memang agama kami berbeda nama, namun Tuhan kami tetap sama. Kenapa manusia masih membedakan nama? Bukankah cinta kami kehendakMu juga?

            Tuhan, dengarlah curahanku seperti aku mendengarkan curahanmu, agar tidak terjadi kesalahpahaman diantara Sang Pencipta dan Yang diciptakan. Semua ini tentang aku, Engkau, dia, dan cinta yang dibedakan atas nama agama. Tentang kami yang sulit menyatu meskipun kami yakin Tuhan kami satu. Tuhan, percayalah, dia juga mencintaiMu, hanya saja dia menyebut namaMu dengan sebutan yang berbeda. Kami sama-sama mendoakan. Aku dengan kedua tanganku yang terbuka menyatu, dan dia dengan kedua tangannya yang mengepal menyatu. Hanya saja yang membedakan kita adalah tasbih yang terselip di tanganku dan rosario ditangannya.
            Aku pun meyakini bila kami berbeda agama tak pernah sedikitpun kami berbatas pada perbedaan. Karena cinta tidak memandang perbedaan, tapi cinta tumbuh didalam perbedaan. Yang namanya cinta itu pasti berawal dari sebuah perbedaan, kemudian menuju kesempurnaan. Namun jika memang pada akhirnya kami harus terusir, maka usirlah kami. Bukan mengusir kami dari Tuhan kami. Ijinkan kami menyayangiMu dengan Iman kami. Karena kami tak pernah menyalahkan cinta, agama, ataupun Tuhan. Yang kami tahu, perbedaan itu ada untuk membuat kita menjadi logis dan lebih dewasa.



2 komentar:

  1. Mungkin Tuhan tidak butuh untuk kamu bela, apalagi atas nama cinta

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku tidak percaya orang yg tau apa yg tuhan ingin mereka lakukan, karena aku mnyadari bahwa itu slalu kebetulan jika keinginan mereka dan tuhan sama

      Hapus